Sungguh, Cinta Harus Memilih!

March 31st, 2008

Kenangan2dabu2
Judul Buku: Kenangan Abu-abu
Pengarang: Winna Effendi
Penerbit: Akoer, Jakarta
Cetakan: I, Januari 2008
Ukuran: 13.5 x 21 cm, 185 halaman
Keterangan: Kiriman Penerbit Akoer

Sungguh, Cinta Harus Memilih!

INI adalah cerita tentang dunia kita … dunia
elu dan gue berdua! Dimana cinta selalu menjadi warna abu-abu yang
membiaskan segala kenangan di bangku sekolah ESEMA. Diantara
bilah-bilah kurang dari 1.100 hari, emosi, cinta, dan cemburu adalah
ramuan yang selalu fatal. Membekas dan tidak pernah mau pergi. Sampai
kapanpun!

Masa SMA adalah masa terindah. Inilah masa penuh
warna, peralihan dari masa ABG menjadi remaja dan menjadi batu lompatan
memasuki kedewasaan. Di sinilah masa di mana banyak orang mulai
mengenal cinta sebenarnya, bukan lagi cinta monyet yang biasa
menjangkiti para ABG. Di sinilah suka dan duka, cinta dan impian,
harapan dan kewajiban terjalin sebagai kisah yang mewarnai hari-hari
yang kurang dari 1.100 hari itu. Tiga tahun lamanya, kebersamaan
menggapai masa depan yang indah ataupun kelabu, menjadi penggalan kisah
hidup yang takkan pernah bisa dilupakan.

Tema itulah yang diangkat Winna Effendi dalam novel “Kenangan Abu-abu; Ketika Cinta tak lagi Bisa Memilih” terbitan Akoer
ini. Membacanya, sungguh kita dibawa bernostalgia kembali dengan
masa-masa yang pernah kita jalani itu. Dan Winna mengangkatnya dalam
bentuk kisah persahabatan dan percintaan, sesuatu hal yang sebenarnya
sulit untuk dipisahkan. Jika persahabatan dikawinkan dengan percintaan,
maka pastilah lahir sebuah pengkhianatan.

Winna2Cara
Winna bercerita, langsung mengingatkan pada pola penceritaan yang
pernah diusung Donny Dhirgantoro dalam novel “5 cm” (Grasindo: 2006)
dan “Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona!
karya keroyokan Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit
Yunita (Gagasmedia: 2007). Dibanding “pendahulu-pendahulunya” itu,
Winna tentu punya kelebihan dan juga kekurangan. Memosisikan diri untuk
menyelami masing-masing karakter tokoh yang berbeda-beda dengan
penjiwaan berbeda pula, jelas suatu hal yang sulit. Dan untuk sementara
penulis muda berusia 22 tahun ini bisa dianggap sukses seperti yang
telah dilakukan Donny serta Adhitya dan kawan-kawan. Maka jangan heran
bila ceritanya mengalir dan berjalan lancar tanpa harus mengerutkan
kening guna memahami psikologi masing-masing tokoh.

Bercerita tentang persahabatan dan percintaan antara
pasangan Freya-Moses, Gia-Adrian, yang merupakan 2 pasangan idola yang
paling popular di sebuah SMA di Jakarta. Freya digambarkan sebagai
gadis yang cerdas dan selalu mendapatkan beasiswa, namun terkesan
menutup diri. Dia berpacaran dengan Moses, sang ketua OSIS yang punya
wibawa dan kharisma, tapi terlalu kaku dalam menjalin percintaan dengan
Freya. Sementara Adrian digambarkan sebagai cowok ganteng yang gape
main basket dan digandrungi semua cewek. Sedangkan Gia yang menjadi
kekasihnya, merupakan cewek terpopuler di sekolahnya.

Keempat tokoh ini terbelit tali cinta yang serba
kusut dan membingungkan. Semua itu bermula dari mulai berubahnya “rasa”
di hati Adrian terhadap Gia setelah dia mulai mengenal sisi yang
berbeda dari Freya yang biasanya lebih banyak diam ketika mereka
berempat saling berkumpul. Kehadiran Freya menjadi semakin berarti
setelah Adrian kehilangan ibunya karena kecelakaan. Hanya Freya yang
dianggap mengerti Adrian, karena Freya pun telah lama merasakan apa
yang dirasakan Adrian itu lantaran ibunya juga sudah meninggal karena
diserang kanker.

Adrian berkeinginan untuk meninggalkan Gia. Tapi
sulit, karena Gia sudah menyerahkan segalanya untuk Adrian. Dan Adrian
tak mungkin mendapatkan Freya yang merupakan pacar Moses, sahabatnya
sejak kecil. Namun Adrian tak mau mendustai hatinya. Dia tak mau
terus-menerus berbohong, bahwa ketika dia bersama Gia, hanyalah Freya
yang berada di benaknya.

Pun begitu dengan Freya. Dia juga merasakan sesuatu
yang berbeda sejak dia mulai akrab dengan Adrian. Moses baginya
bukanlah cinta pertama, tapi hanyalah pacar yang pertama. Justru
baginya Adrianlah cinta pertamanya itu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa
menerima cinta Adrian, sementara Gia adalah sahabat baiknya.

Kekerasan hati Adrian untuk memiliki Freya,
memunculkan polemik saat dia memutuskan Gia. Freya tidak menerima
keputusan Adrian itu, karena dia tak mau menjadi orang ketiga yang
menyebabkan putusnya tali cinta sahabatnya tersebut. Dan Moses pun
akhirnya mengetahui, kalau Adrian “mengambil” Freya yang dicintainya.
Tapi pilihan cinta itu terpaksa tertunda, karena Freya sungguh tidak
mau menyakiti Gia. Adrian kembali ke Gia, dan Freya tetap putus dengan
Moses.

Rumit. Tapi kerumitan itu tidak terasa benar,
lantaran Winna mampu memutusnya dengan gaya penceritaan yang lancar dan
tak bertele-tele dari sisi masing-masing tokoh. Walau ending-nya
bisa ditebak, tapi konflik yang dibangun Winna sungguh bagus. Dan di
akhir cerita, Winna masih memberi celah kalau novel ini bisa berlanjut
dalam sekuel berikutnya yang tentu saja lebih menarik setelah Adrian
akhirnya memiliki Freya.

Bagaimana kelanjutan kisah Gia dan Moses, serta Erik
yang merupakan sahabat Freya yang naksir berat kepada Gia, tentu akan
menarik dijadikan sebagai sekuel kedua dari Kenangan Abu-abu ini. Mari
kita sama-sama menunggu…




One Response to “Sungguh, Cinta Harus Memilih!”

  1.   max on October 15, 2008 8:12 pm

    jangan lupa ditulis sumber tulisannya :D

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind